Sabtu, 21 April 2012

BAHAN ADITIF/PENGAWET dan bahayanya terhadap KESEHATAN

PENDAHULUAN

Pola makan yang sehat ialah makanan yang mengandung semua unsur gizi seimbang sesuai kebutuhan tubuh, baik protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, dan air. Sumber nutrisinya juga disarankan dipilih yang sealami mungkin.
Untuk itu makan tidak cukup hanya kenyang,tetapi harus bergizi dan sehat serta menggugah selera.
Ketika menusia mengkonsumsi makanan yang mengandung bahan kimia,secara bertahap toksin atau racun akan menumpuk (berakumulasi) pada organ tubuh dan dalam waktu singkat akan menyerang sel-sel serta sistem kekebalan tubuh.
Toksin atau racun dapat menemukan jalan masuk ke dalam darah serta organ tubuh melalui tiga fungsi toksifikasi, yaitu:
1. Sistem pencernaan (lambung, isi perut, usus kecil dan usus besar).
2. Sistem penyaringan (hati, kulit, rahim, dan ginjal)
3. Sistem endokrin (kelenjar pineal, kelenjar tymus, kelenjar adrenal, kelenjar tyroid/gondok, kelenjar pankreas dan kelenjar sex).
Mencermati kemungkinan terjadinya gangguan kesehatan, dihimbau untuk berhati-hati terhadap bahan pengawet makanan yang digunakan.

MENURUT HASIL PENELITIAN BAHWA SUMBER PENYAKIT MANUSIA 90% BERASAL DARI USUS (COLON) YANG TIDAK BERSIH ATAU TIDAK SEHAT.


Penyebab yang memungkinkan terjadi gangguan kesehatan di antaranya:
1) Adanya jumlah paparan bahan pengawet sebagai akibat konsumsi produk makanan yang bersangkutan         (pengaruh kumulatif).
2) Potensi toksisitas (karsinogenik) bahan pengawet sewaktu tertelan.

JENIS BAHAN PENGAWET MAKANAN

A. Borak atau asam borat adalah senyawa berbentuk kristal, warna putih, tidak berbau dan stabil pada suhu dan tekanan normal. Merupakan bahan untuk pembuatan detergen, guna mengurangi kesadahan air dan bersifat antiseptik.
Boraks sangat berbahaya jika terhirup, terkena kulit, selaput mata, dan tertelan, mengakibatkan iritasi saluran napas, iritasi mata, gangguan susunan syaraf pusat, dan keerusakan ginjal.

JIKA BORAKS DENGAN JUMLAH 5-10 GRAM TERTELAN ANAK-ANAK, DAPAT MENGAKIBATKAN SHOCK DAN KEMATIAN.


Makanan yang mengandung boraks berciri-ciri:
-Bakso memiliki tekstur yang kenyal, warna cenderung keputihan dengan rasa sangat gurih.
-Mie basah mempunyai tekstur sangat kenyal, biasanya lebih mengkilat, tidak lengket dan tidak cepat putus.
-Jajanan (lontong, kerupuk); berasa sangat gurih da memberikan rasa getir.

B. Formalin adalah larutan yang tidak berwarna dan baunya sangat menusuk. Didalam formalin terkandung sekitar 37% formaldehid dalam air. Biasanya ditambahkan methanol hingga 15% sebagai pengawet. Formalin digunakan sebagai bahan perekat untuk kayu lapis dan desinfektan untuk peralatan rumah tangga serta untuk pengawet mayat.
Bila tertelan formalin dapat menyebabkan rasa terbakar pada mulut da tenggorokan, sakit kepala, hipotensi hingga tidak saadr. Dalam jangka panjang dapat terjadi kanker dan kelainan genetika.

Ciri-ciri jenis makanan yang mengandung formalin yaitu:
-Mie basah; bentuk lebih mengkilap, lebih awet (3 hari), tidak lengket dan baunya menyengat.
-Ikan segar, lebih awet (3 hari), warna insang merah tua bukan merah segar, warna ikan putih bersih, tekstur kenyal dan baunya menyengat.
-Daging ayam; lebih awet, warnanya putih, tidak dikerubungi lalat dan baunya menyengat.
-Tahu; memiliki tekstur kenyal, tidak mudah hancur, baunya menyengat dan lebih awet (2-3 hari).

Rhodamine B
C. Rhodamin-B adalah zat warna sintetis berbentuk serbuk kristal, berwarna hijau atau ungu kemerahan, tidak berbau dan dalam larutan berwarna merah terang berfluoresens. Umumnya digunakan sebagai pewarna kertas, tekstil, sabun, kayu, dan kulit.
Konsumsi Rhodamin-B dalam waktu lama dapat menimbulkan gangguan fungsi hati dan kanker hati.
Penyalahgunaan rhodamin-B sebagai pewarna makanan ditemukan pada beberapa jenis makanan seperti: kerupuk, terasi, serta jajanan yang berwarna merah.


D. Metanil Yellow adalah zat warna sintetis berbentuk serbuk berwarna kuning kecokelatan, larut dalam air. Umumnya digunakan sebagai pewarna tekstil dan cat.
Merupakan senyawa kmia yang dapat menimbulkan tumor dalam berbagai organ tubuh, seperti: hati, kandung kemih, saluran pencernaan, serta jaringan kulit.
Penyalahgunaan Metanil Yellow sebagai pewarna makanan ditemukan pada beberapa jenis makanan seperti: kerupuk, mie, serta jajanan yang berwarna kuning.

KARENA BERPOTENSI BAHAYA, JENIS BAHAN KIMIA: FORMALIN, BORAKS, PEWARNA MERAH (RHODAMIN-B), DAN PEWARNA KUNING (METANIL YELLOW) DILARANG DIGUNAKAN DIDALAM PRODUK MAKANAN (PERMENKES NO: 722/MENKES/PER/IX/1988) TENTANG BAHAN TAMBAHAN MAKANAN).


UPAYA PENCEGAHAN

Konsumen harus mengetahui ciri-ciri makanan yang mengandung formalin, lebih selektif dan berhati-hati atas produk makanan yang akan dikonsumsi serta tidak segan-segan menanyakan kepada penjual makanan tersebut apakah produknya menggunakan formalin atau tidak. Tidak semua makanan mengandung formalin, untuk itu pilihlah makanan yang bebas bahan pengawet dan bahan kimia lainnya.