Laman

Cari artikel

Memuat...

Senin, 12 Januari 2015

Tuntunan Bersuci Tatkala Sakit


 {الله لآ إله إلآ هو الحي القيوم. لا تأخذه سنة و لا نوم. له ما في السماوات و ما في الأرض. من ذا الذى يشقع  عنده إلا بإذنه. يعلم ما بين أيدهم و ما خلفهم.  و لا يحيتون بشيء من علمه إلا بما شاء. وسع كرسيه اليماوات و لأرض. و لا بؤده حفذهما و هو العلي العذيم.}
Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Yang Hidup Kekal, Lagi Terus-Menerus mengurus makhluk-Nya; tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di  bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at disisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, Dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Tuntunan Bersuci Tatkala Sakit

          Dalam sebuah fatwanya, Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz –rahimahullahu menjelaskan tuntunan untuk bersuci guna melaksanakan ibadah kepada Rabb-nya tatkala dirinya tengah dilanda musibah berupa sakit dikarenakan suatu gangguan atau penyakit yang menimpanya.
      Allah ta’ala telah mensyari’atkan bersuci setiap akan menegakkan sholat, karena menghilangkan hadats dan membersihkan najis, baik pada tubuh, pakaian maupun di tempat shalat, termasuk di antara syarat sahnya shalat.
         Ketika seorang  muslim hendak menegakkan sholat, ia wajib berwudhu dengan tata cara yang sudah dituntunkan untuk menghilangkan hadats kecil, atau dengan mandi jika hadatsnya besar. Jika dia buang air kecil ataupun besar sebelum berwudhu, maka ia wajib istinja’ dengan air atau istijmar dengan batu, agar kesucian dan kebersihannya sempurna. Berikut ini adalah beberapa penjelasan fiqih yang berhubungan dengan hal itu, khususnya tatkala sakit.
               Telah dimaklumi bahwa seorang muslim wajib melakukan istinja’ dengan air untuk setiap najis yang keluar dari dua jalan (qubul dan dubur), seperti buang air kecil dan buang air besar.  Istinja’ tidak perlu dilakukan oleh orang yang tertidur atau hanya kentut, melainkan ia hanya diwajibkan berwudhu. Karena dia tidak najis, sedangkan istinja’ disyariatkan untuk menghilangkan najis.
               Adapun istijmar dilakukan dengan menggunakan batu atau yang dapat menggantikannya. Hendaknya dengan tiga batu yang suci. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam:
  من استجمر فليوتر
“Barangsiapa yang melakukan istijmar, hendaklah dengan jumlah yang ganjil.”
      Juga sabda Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam:
إذا ذهب أحدكم إلى الغاءط فليذهب معه بثلاثة  أحجار يستطيب بهن فإنها تجزئ عنه
“Apabila salah seorang dari kalian buang air besar, hendaklah ia membawa tiga buah batu untuk membersihkan diri dengannya, karena hal itu sudah cukup mensucikannya.” (HR Abu Dawud).
         Sebuah hadits dalam riwayat Muslim telah menyebutkan larangan Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam untuk melakukan istijmar dengan menggunakan kurang dari 3 buah batu. Tidak boleh juga melakukan istijmar dengan menggunakan kotoran (kotoran kering) dan tulang belulang, makanan, ataupun apa-apa yang bernilai. Adapun yang afdhol, seseorang beristijmar dengan menggunakan batu atau yang semisalnya, seperti tisu dan sejenisnya.
           Kemudian dia menyekanya dengan air. Jika batu itu menghilangkan substansi najis, maka air akan membersihkan tempat keluarnya kotoran itu, sehingga menjadi sempurna kesuciannya. Walau demikian seseorang boleh memilih istinja’ dengan air atau istijmar dengan batu dan yang sejenisnya. Berdasarkan hadits dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Nabi pernah masuk tempat buang air, lalu aku dan seorang anak kecil sebayaku membawakan sewadah air untuk beliau dan sejenis tongkat, lalu beliau bersuci dengan air tersebut.” (HR Bukhari dan Muslim).
          Dan hadits dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa ia berkata kepada sejumlah perempuan, “Suruhlah suami kalian bersuci dengan air, karena aku merasa malu menjelaskan ini kepada mereka, karena Rasulullah dulu juga melakukannya.” (Tirmidzi berkomentar “Hadits ini shahih”.)
          Adapun jika hendak jika hendak mencukupkan diri dengan salah satunya, maka menggunakan air adalah lebih utama, karena air itu lebih mampu sekaligus membersihkan tempat kotoran, menghilangkan substansi najis, juga bekasnya. Memakai airpun lebih sempurna untuk bersuci.
         Jika hendak bersuci dengan batu, maka dengan tiga buah batu sudah mencukupinya, yaitu bila tempatnya bisa bersih dengannya. Tapi jika tiga batu itu tidak cukup, maka hendaknya menambah dengan batu keempat dan kelima sampai tempat kotoran  itu bersih. Yang lebih utama adalah menyelesaikan istijmar dengan jumlah ganjil, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam:

  من استجمر فليوتر
“Barangsiapa yang melakukan istijmar, hendaklah dengan jumlah yang ganjil.”
         Jangan bersuci dengan tangan kanan, berdasarkan ucapan Salman radhiyallahu ‘anhu: “Rasulullah melarang kami bersuci dengan tangan kanan.”
         Dan sabda beliau shallallahu ‘alayhi wasallam:
لا بمسكن أحدكم ذكره بيمينه وهو يبول. و لا بتمسح من الخلاء بيمينه
“Janganlah salah seorang diantara kamu memegang kemaluannya dengan tangan kanannya saat buang air kecil, dan janganlah menyeka kotorannya dengan tangan kanannya.”
           Namun jika tangan kirinya putus atau ada bagiannya yang patah karena sakit atau sebab lain, maka ia boleh melakukan istijmar dengan tangan kanannya karena darurat. Hal ini tidak mengapa, karena syariat Islam merupakan tuntunan yang berasaskan kemudahan. Oleh karena itu Allah telah member keringanan bagi orang yang punya udzur untuk beribadah sesuai dengan kadar udzurnya. Hal itu agar mereka dapat selalu beribadah kepada Allah tanpa merasa kesulitan dan kepayahan.
           Allah ta’ala berfirman:
و ما جعل عليكم في الدين   من حرج
“….Dan tidaklah sekali-kali Dia menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan…” (Al-Hajj:78)
يريد الله بكم اليسر و لا يريد بكم العسر
“…Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesusahan bagimu…” (Al-Baqarah:185)
فاتقوا الله ما استطعتم
“Dan bertakwalah kalian kepada Allah sesuai kemampuan kalian” (At-Taghabun:16)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:
إذا أمرتكم بأمر فأتوا منه ما استطعتم
“Apabila aku menyuruh kalian untuk melakukan sesuatu, maka lakukanlah semampu kalian.”
إن  الدين  يسر
“Sesungguhnya agama ini mudah.”
         Oleh karena itu, jika orang yang sedang sakit tidak mampu bersuci dengan menggunakan air untuk berwudhu menghilangkan hadats kecil atau hadats besar karena tubuhnya lemah, atau karena khawatir sakitnya akan bertambah, atau mungkin sembuhnya akan menjadi lama, maka hendaklah ia bertayammum.
           Tayammum yaitu dengan menepukkan kedua telapak tangan ke atas tanah (debu) yang bersih dengan satu kali tepukan, lalu mengusapkannya ke wajahnya dengan bagian dalam kedua telapak tangannya itu, juga mengusapkannya sampai kedua pergelangan tangannya dengan menggunakan dua telapak tangannya. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:
و إن كنتم  جنبا فاطهروا. و إن كنتم  مرضى أو على سفر أو جآء أحد منكم من الغآئط أو لامستم النسآء فلم تجدوا مآء فتيمموا صعيدا طيبا فامسحوا بوحوهكم و أيديكم منه.
“…Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu…” (Al-Maidah:6)
          Orang yang tidak bisa menggunakan air, hukumnya sama dengan orang yang tidak mendapatkan air. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:   
إنما الأعمال بالنياتز و إنما لكل امرئ ما نوى
“Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung dengan niat-niatnya, dan setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”
         Orang yang sakit memiliki beberapa kondisi:
a.    Jika sakit yang diderita seseorang itu ringan. Ketika orang itu menggunakan air, ia tidak khawatir akan membahayakannya, tidak pula khawatir timbul penyakit yang ia takutkan, atau memperlambat kesembuhannya, tidak menambah rasa sakit, dan tidak pula hal yang parah, seperti pusing, sakit gigi, dan semisalnya. Atau ia masih bisa menggunakan air hangat dan tidak membahayakannya. Maka orang ini tidak boleh untuk bertayammum, karena dibolehkannya tayammum itu untuk menghindarkan bahaya dari orang yang sedang sakit. Dalam keadaan ini air tersebut tidak membahayakannya, dan ia pun mendapatkan air, maka ia wajib menggunakan air itu untuk bersuci.
b.    Jika pada seseorang ada penyakit yang dikhawatirkan membahayakan nyawanya kalau memakai air, atau menyebabkan bagian anggota tubuhnya cedera, atau timbulnya penyakit yang mengancam jiwanya, atau cederanya organ tubuh, ataupun tidak berfungsinya salah satu dari organ tubuhnya, maka orang ini diperbolehkan bertayammum. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:
 و لا تقتلوا أنفسكم. إن الله كلن بكم رحيما
“Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (An-Nisa’:29)
c.     Jika seseorang itu mengidap penyakit, sehingga ia tidak sanggup menggerakkan badannya dan ia tidak menemukan orang yang dapat memberikan air kepadanya, maka dalam kondisi demikian ia diperbolehkan untuk bertayammum.
d.    Jika seseorang memiliki luka pada tubuhnya, seperti luka bernanah, atau luka retak tulang, atau sebuah penyakit yang membahayakannya apabila ia menggunakan air, lalu ia junub, maka dalam kondisi demikian ia diperbolehkan bertayammum. Hal ini sesuai dengan dalil-dalil sebelumnya. Jika memungkinkan anggota badannya yang sehat untuk dicuci, maka ia wajib melakukannya dan bertayammum untuk anggota badannya yang lainnya.
e.    Jika seseorang sakit di tempat yang tidak ditemukan air, juga tidak ada tanah berdebu, serta tidak ada orang yang dapat memberikan keduanya, maka ia melakukan shalat sesuai dengan kondisinya saat itu tanpa mengakhirkan waktu shalat, karena Allah Ta’ala berfirman:
فاتقوا الله ما استطعتم
“Dan bertakwalah kalian kepada Allah sesuai kemampuan kalian” (At-Taghabun:16)
f.      Jika seseorang mengidap penyakit “beser” (tidak bisa mengontrol keluarnya kencing) dan ia tidak kunjung sembuh dengan pengobatan yang dilakukannya, maka ia wajib berwudhu setiap hendak melakukan shalat setelah waktunya masuk, ia juga harus mencuci bagian anggota tubuhnya yang terkena air seninya itu dan ia harus menggunakan pakaian yang suci dalam melakukan shalat tersebut jika hal itu tidak menyulitkannya. Tapi jika ia tidak mampu, maka hal itu dimaafkan darinya. Ini sesuai firman Allah Subhaanahu wa Ta’ala:
و ما جعل عليكم في الدين   من حرج
“….Dan tidaklah sekali-kali Dia menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan…” (Al-Hajj:78)
يريد الله بكم اليسر و لا يريد بكم العسر
“…Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesusahan bagimu…” (Al-Baqarah:185)

إذا أمرتكم بأمر فأتوا منه ما استطعتم
“Apabila aku menyuruh kalian untuk melakukan sesuatu, maka lakukanlah semampu kalian.”
          Disamping itu, ia harus mewaspadai dirinya  agar air seninya tidak bercipratan di pakaian atau di badannya ataupun di tempat ia melakukan shalat tersebut (misalnya dengan menggunakan penampung/penahan).
          Perlu diketahui juga, bahwa setiap hal yang membatalkan wudhu akan membatalkan tayammum, juga tayammum akan batal setelah adanya kemampuan darinya untuk menggunakan air, atau karena ada air bila saat sebelumnya tidak ditemukan. Wallahu A’lam.
(Sumber: dinukil dari al-ahkam wal fatawa asy-syar’iyyah li katsir minal masa’il ath thibbiyyah- Dr. Ali bin Sulaiman ar-rumaikhon)