Laman

Selasa, 21 Juli 2015

Berhias dengan Akhlak Mulia


Al-Ustadz Abdurrahman Lombok

Di dalam Al-Qur`an banyak dijumpai ayat-ayat yang memerintahkan agar manusia memiliki akhlak yang baik. Akhlak yang baik (akhlakul karimah) sangat diperlukan dalam menjalani kehidupan yang kadang dihadapkan dengan berbagai cobaan. Dengan akhlak yang baik, berbagai bentuk cobaan hidup bisa dijalani sehingga kita senantiasa diridhai Allah.

Terkadang dalam kehidupan sehari-hari, kita harus dihadapkan dengan tantangan dan gesekan-gesekan hidup. Gesekan itu bisa datang dari diri kita sendiri atau dari orang lain. Tak jarang kita dihadapkan dengan orang-orang terdekat seperti kedua orang tua, sanak famili, teman-teman, dan bahkan dari seluruh masyarakat.
Ini adalah suatu kemestian, terlebih kalau kita hidup bersama orang lain. Yang demikian itu terjadi karena kita tidak memiliki hati yang satu dan tujuan yang sama. Itulah yang mengakibatkan terjadinya gesekan-gesekan dalam hidup. Sebagai individu saja, kita sering mengalami problema, maka terlebih lagi kalau terkait dengan orang lain. Oleh karena itu, Islam mengajarkan akhlak yang mulia untuk menghadapi semua itu dan bergaul bersama orang lain dengan pergaulan yang baik.
Sudahkah Anda berbakti kepada kedua orang tua dan tahukah hukumnya? Allah Ta'ala berfirman:

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepadamu (agar kamu mengatakan kepada mereka) janganlah kalian menyembah kecuali hanya kepada-Nya dan agar kalian berbuat baik kepada kedua orang tua.” (Al-Isra`: 23)
Pernahkah anda kasihan terhadap orang yang mendapatkan musibah dan terdorong untuk segera membantunya? Allah Ta'ala berfirman:

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan dan janganlah kalian tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (Al-Maidah: 2)
Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang memberikan kemudahan terhadap kesulitan saudaranya, niscaya Allah akan memberikan kemudahan baginya di dunia dan di akhirat.” (Shahih, HR. Muslim dari Abu Hurairah)
Bisakah Anda tawadhu’ (merendahkan diri) di hadapan saudara Anda? Padahal Allah I berfirman:

“Dan rendahkanlah dirimu di hadapan orang-orang yang mengikutimu dari orang-orang yang beriman.” (Asy-Syu’ara`: 215)
Bisakah Anda menahan marah ketika melihat kekurangan pada diri saudara Anda? Padahal Rasulullah r bersabda:

“Seseorang datang kepada Rasulullah lalu mengatakan: “Wahai Rasulullah!! Nasehatilah aku”. Rasulullah bersabda: “Janganlah kamu marah.” Orang tersebut mengulangi (pertanyaannya), Rasulullah tetap mengatakan: “Jangan kamu marah.” (Shahih, HR. Al-Bukhari)
Bisakah Anda menjadi orang pemaaf ketika saudaramu bersalah dan langsung meminta maaf? Allah Ta'ala berfirman:

“Jadilah engkau pemaaf dan serulah kepada kebajikan dan berpalinglah dari orang-orang jahil.” (Al-A’raf: 199)
Bisakah Anda menebar salam dan tersenyum di hadapan saudaramu? Rasulullah r bersabada:

“Hak orang muslim terhadap muslim lainya ada lima; menjawab salam, menjenguk orang yang sakit, mengantar jenazah, menjawab undangan dan menjawab orang yang bersin.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Bisakah Anda lemah lembut di hadapan saudaramu? Padahal Allah Ta'ala berfirman:

“Maka dengan rahmat Allah-lah kamu menjadi lemah lembut kepada mereka dan jika kamu berlaku kasar terhadap mereka, niscaya mereka akan menyingkir dari sisimu.” (Ali ‘Imran: 159)
Pernahkah Anda sadar membaca Bismillah ketika ingin makan dan minum, dan bahwa makan dan minum dengan tangan kanan adalah wajib sementara dengan tangan kiri adalah haram? Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam bersabda:

“Hai nak, bacalah bismillah dan makanlah dengan tangan kanan dan makanlah yang ada di sekitarmu.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dan pernahkah Anda sadar bahwa makan dan minum dengan tangan kiri adalah cara syaithan? Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam bersabda:

“Maka sesungguhnya syaithan makan dan minum dengan tangan kiri.” (HR. Muslim)
Masuk ke dalam rumah dengan mengucapkan salam? Allah Ta'ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian masuk ke rumah-rumah yang bukan rumah kalian sampai kalian meminta izin dan mengucapkan salam atas penghuninya.” (An-Nur: 28)
Sayangkah Anda kepada saudara Anda sesama muslim? Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang tidak menyayangi manusia maka Allah tidak akan menyayanginya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu)
Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan sebagian dari akhlak yang harus ada pada seseorang dan dalam hidup bermasyarakat.

Berakhlak Yang Baik
Kita menginginkan semua orang baik di hadapan kita dan menginginkan agar mereka cinta dan sayang. Kita berharap memiliki teman yang mengetahui jati diri kita, keluarga kita, dan berusaha meringankan beban hidup kita. Kita mencari teman yang bisa kita ajak menuju segala bentuk kebajikan. Kita ingin memiliki teman yang tawadhu’, lapang dada, penyayang, ramah tamah, ringan tangan, penyabar, yang suka mengingatkan ketika kita lupa dan yang menasehati ketika bersalah, selalu bermuka manis dan ceria, memiliki tutur kata yang baik, lemah lembut, dermawan, menerima kekurangan orang lain, pemaaf dan akhlak-akhlak baik lainnya. Untuk mendapatkan hal yang demikian, tentu memiliki syarat-syarat yang harus dilakukan yaitu “Berakhlaklah dengan akhlak yang baik”. Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam bersabda:

“Bertakwalah di mana saja kamu berada dan susullah perbuatan jelek dengan perbuatan baik niscaya akan menghapuskan perbuatan jelek tersebut dan berakhlaklah kepada manusia dengan akhlak yang baik.” (Hasan, HR. At-Tirmidzi dari Mu’adz bin Jabal dan Abu Dzar radhiyallahu 'anhuma)
Dalam hadits ini ada beberapa pelajaran penting, di antaranya anjuran untuk selalu memberikan wasiat kepada saudaranya dan mengingatkan kewajiban-kewajibannya. Juga bahwa setiap orang harus selalu merasa diawasi oleh Allah Ta'ala, perbuatan baik akan menghapuskan perbuatan jelek, dan bergaul dengan setiap orang dengan akhlak yang baik.
Wallahu a’lam.