Senin, 26 Agustus 2013

Ancaman Regenerasi Komunis 2

3) Atheisme, aliran ideologi yang menolak segala keyakinan adanya Tuhan dan bahkan menolak segala bentuk keyakinan agama. Aliran ideologi ini diwarisi dari para filosofi yunani seperti Thales, Anaximenes, Herakleitos, Demokritos, Epikuros, Xenophanes dan Lucretius, yang kemudian dipopulerkan oleh Aristoteles. Aliran ini adalah puncak kejahatan berbagai aliran ideologi Dajjal yang dilansir oleh budaya barat di dunia melalui gerakan imperialisme. Terhadap ajaran-ajaran ideologi ini, Allah Ta'ala mencercanya dengan keras sebagaimana firman-Nya:
"Apakah engkau tidak memperhatikan keadaan orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya sehingga Allah sesatkan dia dalam keadaan berilmu dan Allah tutup pendengarannya dan hatinya dan Allah jadikan atas penglihatannya tabir penutup? Maka siapa lagi yang bisa menunjukinya kepada jalan kebenaran setelah Allah tidak menunjukinya, apakah dengan demikian kalian tidak mau ingat? Dan mereka menyatakan pula: Tidak ada kehidupan bagi kami kecuali kehidupan kami di dunia ini, kita hidup dan mati padanya. Dan tidak ada yang membinasakan kita kecuali perubahan masa belaka. Mereka sesungguhnya dengan keyakinan itu, tidaklah di atas dasar ilmu, sebab mereka membangun keyakinannya di atas dasar praduga belaka." (Al-Jatsiyah:23-24)

4) Humanisme, aliran ideologi yang diwarisi Barat dari filsuf Yunani kuno Protagoras yang mengangkat subyektivitas manusia sebagai ukuran segala penilaian. Aliran ini menganggap bahwa individu rasional sebagai nilai paling tinggi dan sumber nilai terakhir tanpa harus terikat kepada agama tertentu. Aliran ini mengajarkan bahwa manusia dapat menggali ajaran-ajaran budi pekerti dari renungan rasional tanpa harus merujuk atau mengikatkan dirinya kepada agama tertentu. Sehingga membuka pergaulan sesama manusia demi mencapai persaudaraan segenap umat manusia tanpa batas-batas agama, ras, suku bangsa tertentu. Aliran ini menganggap agama sebagai sumber konflik, sehingga harus dianulir peranannya di masyarakat seminimal mungkin dan kalau bisa ditiadakan. Tokoh humanisme abad 19 di Eropa ialah yang August Comte yang menggelari humanisme sebagai agama tersendiri dan dinamakan "agama kemanusiaan". Dari aliran ini muncul berbagai ajaran kebejatan moral setelah kehancuran iman, seperti nudisme yang menyerukan kembalinya manusia kepada keasliannya yaitu hidup tanpa busana sebagaimana asalnya manusia ketika dilahirkan ibunya. Juga tuntutan adanya pengakuan hak kaum homoseksualitas untuk menjalin pernikahan  dengan pasangan sejenisnya secara resmi. Semua aliran dan gerakan itu harus dihormati sebagai pandangan hidup manusia yang humanistis. Tetapi Allah Ta'ala sangat mencelanya sebagaimana dalam Firman-Nya di Al-Qur'an:
"Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (yakni pengetahuan tentang isi Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaithan (samai dia tergoda). Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajatnya) dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepad dunia dan memperturutkan hawa nafsunya yang rendah. Maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia menjulurkan lidahnya juga. Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kepada mereka kisah-kisah itu agar mereka berfikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim. Barangsiaa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi. Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati (akal pikiran), tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah dan mereka mempunyai mata  tetapi tidak dierguankannya untuk melihat kebenaran agama Allah, dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mereka itu keadaannya seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih tidak berfikir lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (Al-A'raf: 175-179).

5) Rasionalisme, aliran ideologi yang meyakini bahwa segala pengetahuan dapat diraih oleh manusia melalui akal pikirannya semata, karena segala sesuatu tidak terbatas melalui akal pikiran manusia. Aliran ini dipelopori dan dikembangkan di Eropa oleh Descartes thn 1593-1661. Menurutnya, metafisika dan ilmu pengetahuan dapat diselenggarakan oleh akal manusia semaat. Ajaran demikian dikembangkan lebih lanjut oleh Spinoza thn 1632-1677, dan akhirnya mendominasi alam pikiran Eropa pada abad ke 18 dan mendasari gerakan pembaharuan pemikiran Eropa yang terkenal di abad tersebut bernama Aufklarung. Ketika negara-negara imperialis Eropa menduduki negara-negara Islam di Asia dan Afrika, aliran ini un merembes di kalangan muslimin. Dan sebagaimana sifatnya aliran ini di Eropa yang mengkritik dengan tajam kitab-kitab suci Kristen dan Yahudi (Injil dan Taurat) dan menganggapnya tidak asli firman Tuhan, maka ketika aliran ini merembes di kalangan muslimin, anak-anak muslimin melakukan tindakan yang sama dengan guru-guru mereka di Eropa; yaitu mengkritik dengan tajam Al-Quran dan Al-Hadits dan menganggap bahwa pada keduanya terdapat berbagai ajaran dan keterangan yang out of date (kadaluarsa, yakni tidak relevan lagi dengan kemajuan zaman). Sebelum aliran ini berkembang di Eropa, pada abad ke 8 aliran ini telah mulai berkembang di dunia Islam karena pengaruh terjemahan besar-besaran buku-buku filsafat yunani kuno dan Latin ke dalam bahasa Arab. Sehingga muncullah di dunia Islam aliran-aliran rasionalis seperti Mu'tazilah, Jahmiyah, Qadariyah, dan lain-lainnya. Setelah abad ke 19 ketika anak-anak Muslimin belajar dari Barat tentang kebudayaannya, maka berbagai aliran sesatabad ke 8 itupun diperkenalkan kembali dengan gencar di dunia Islam. Aliran ini sangat mendewakan akal sehingga menolak segala unsur kegaiban (yaitu segala perkara yang tidak dimengerti oleh logika) dalam agama dan akhirnya menggiring penganut aliran ini keada atheisme. Allah Ta'ala mencerca ideologi demikian ini dalam firman-Nya:
"Maka berpalinglah dari orang-orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak menginginkan kecuali kehidupan duniawi. Itulah memang batas akhir pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa ayng tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk." (An-Najm: 29-30).

6) Materialisme, aliran ideologi yang meyakini tidak adanya sesuatu  selain materi yang bergerak. Oleh karena itu aliran ini menafikan keberadaan segala sesuatu yang tidak bisa dicapai oleh panca indera. Diyakini pula bahwa segala sesuatu yang ada ini tidak ada penyebab pertama atau penggerak pertama (penciptanya) dan tidak ada sesuatu yang binasa, yang ada hanyalah proses perubahan dari suatu zat kepada zat yang lainnya (yakni menafikan akan datangnya hari kiamat). Dengan prinsip-prinsip demikian, aliran ini mengingkari adanya roh bagi makhluk hidup, mereka mengingkari juga adanya makhluk jin dan malaikat. Tentunya mereka juga mengingkari adanya kehidupan sesudah mati, alam barzakh dan alam akhirat, surga dan neraka, hari kiamat. Puncak daripada pengingkaran mereka ialah mengingkari adanya Allah Ta'ala. Ideologi inilah yang mendasari berbagai ieologi - ideologi lainnya dari berbagai ideologi yang dilansir Barat. Ideologi ini diwarisi dari filsafat Yunani kuno dan dipopulerkan kembali di Eropa pada abad ke 17 melalui tokoh-tokoh seperti Thomas Hobbes (1588-1679) filsuf Inggris dan P. Gassendi (1592-1655) filsuf Prancis. Pada abad ke 18 para filsuf Jerman penganut aliran aufklarung mempelopori sosialisasi ideologi ini di Eropa, seperti Paul Von holbach (1723-1789). Pada abad ke 19 pengenalan ideologi ini dilakukan secara besar-besaran, dan kemudian muncullah tokoh materialis ekstrim Karl Heinrich Marx (1818-1883) teoritikus dan organisator sosialistis Jerman, bapak gerakan sosial demokrasi dan komunisme. Marx dalam memasarkan ie materialisme dialektis berpasangan dengan Friedrich Engels (1820-1895) juga filsuf Jerman, yang keduanya menghasilkan Manifest der Kommunistischen Partei thn 1884 dan Das Kapital thn 1870-1894). Kedua karya tersebut menguraikan penerapan ideologi materialisme ekstrim dalam menelaah ekonomi, sejarah, dan ilmu pengetahuan masyarakat. Terhadap ideologi yang demikian, Allah Ta'ala membantah keras dengan firman-Nya sebagai berikut:
"Maka tetaplah kamu memberi peringatan, dan kamu hai Muhammad tidaklah menjadi tukang tenung dan tidak pula menjadi gila, karena mendapat nikmat kenabian dari Tuhanmu. Bahkan mereka (orang-orang kafir itu) mengatakan: Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya. Katakanlah hai Muhammad untuk menjawab perkataan itu: Tunggulah apa yang ingin kamu tunggu, maka sesungguhnya akuun termasuk orang-orang yang menunggu bersama kamu, siapakah diantara kita yang mendaat siksaan dari Allah. Apakah mereka diperintah oleh akal-akal mereka untuk mengucapkan berbagai tuduhan keji  terhadap Muhammad ataukah memang mereka sengaja membangkang sehingga tidak berfikir lagi dalam melontarkan tuduhan tersebut. Ataukah merka menuduh: Dia (Muhammad) membuat-buat omongan yang kemudian diatasnamakan Allah. Sebenarnya berbagai tuduhan tersebut adalah dalam rangka sikap mereka yang tidak mau beriman. Maka hendaklah mereka mencoba mendatangkan kalimat seperti yang ada dalam al-qur'an itu jika memang keraguan mereka itu benar-benar bisa dibuktikan. Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun, ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri? Ataukah mereka yang telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini ideologi yang mereka katakan. Ataukah disisi mereka ada perbendaharaan rahasia Tuhanmu atau merekakah yang berkuasa terhadap alam raya ini? Ataukah mereka mempunyai tangga ke langit untuk mendengarkan berita-berita gaib? Maka hendaklah orang yang mendenagrkan berita-berita gaib itu di antara mereka, supaya mendatangkan keterangan yang nyata." (Ath-Thur: 29-38)
Demikianlah sebagian ideologi-ideologi sampah yang menimbulkan berbagai pergolakan dunia sehingga jadilah ia sebagai sumber konflik dunia. Dan demikian pula bantahan-bantahan Allah Ta'ala kepada semuanya sebagaimana yang tertera dalam Al-Qur'an. Masing-masing ideologi ini mempunyai para pengekor fanatik yang mengelu-elukannya dan meyakininya sebagai ideologi yang mampu memecahkan berbagai berbagai problem bangsa, negara dan rakyat jelata. Tetapi kenyataannya semua itu sampai hari ini hanyalah slogan kosong belaka dan semakin membangkrutkan kehidupan manusia.###